Jejak Sejarah UKKK UNNES

Tulisan ini dibuat dengan sumber utama dari salah satu penggagas UK3 UNNES yaitu Drs. Ign. Dadut Setiadi, MM yang diwawancarai pada 13 Oktober 2017. Tujuan dari pembuatan tulisan ini tidak jauh dari keinginan untuk mengulas dan membuat artikel resmi tentang sejarah terbentuknya UK3 UNNES mengingat sampai saat ini belum ada tulisan terkait sejarah UK3, kalaupun ada juga tidak mengulas dari awal. Tulisan ini juga dibuat dengan izin dari Badan Pengurus Harian (BPH) UK3 periode 2017-2018.

Perjuangan Awal para Penggagas

Perjalanan terbentuknya UK3 tidaklah mudah, didasari dari keinginan untuk membentuk wadah bagi mahasiswa Katolik IKIP Semarang, nama asli UNNES, untuk berbagi informasi dan memudahkan komunikasi karena saat itu pertemuan para mahasiswa Katolik hanya saat perkuliahan sehingga tidak kenal baik satu sama lain. “Latar belakangnya jelas sebuah keprihatinan, yang pertama, keprihatinan bagaimana mahasiswa Katolik di IKIP Semarang waktu itu tidak punya wadah. Kita hanya bertemu itu seminggu sekali. Itu pun karena kuliah pendidikan agama Katolik, setelah itu selesai,” tutur Dadut dalam ceritanya. Hal lain yang mendasari terbentuknya UK3 yaitu adanya keinginan mempunyai wadah untuk mengembangkan iman dan berkreasi bagi mahasiswa Katolik untuk menghilangkan mindset  mahasiswa  kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang). Menjaga dan mengembangkan iman Katolik dirasa perlu di tengah situasi IKIP Semarang yang kala itu sangat “kuat” dengan mahasiswa mayoritas.

Keinginan untuk membentuk wadah ini sudah cukup lama ada, terbukti dengan adanya rumah basis (asrama putra) di Jln. Kelud Raya 62 yang sudah ada kira-kira tahun 1984, di sana ada beberapa senior mahasiswa Katolik seperti Urip (Geografi’84), Anton (Seni Musik’85), dan Agustinus Tri Raharjanta (Teknik Elektro’85) serta beberapa teman lainnya. Selanjutnya asrama putra tersebut pindah ke Sampangan Baru A-5 sekitar tahun 1986 di sana ada A. Tri Adi Kusworo (Geografi’85), Leo Broto Dewo (Akuntansi’86), LY. Aries Yuwono (Mesin’86), Alexander Sariya (Busana’86), dan Herry (Musik’86) kemudian ditambah dengan kehadiran Tommy Soeprapto (Musik’87). Rumah basis atau asrama putra ini sangat membantu karya pastoral bagi mahasiswa Katolik antara lain digunakan untuk Misa Kampus, Pelajaran Agama Katolik, memberikan perhatian khusus bagi mahasiswa baru Katolik dan tempat berkumpulnya teman mahasiswa Katolik. Di sinilah Romo C. Sigit Tridrianto, CM (Kurikulum dan Teknologi Pendidikan’84), Drs. Ign. Dadut Setiadi, MM (Kurikulum dan Teknologi Pendidikan’86), Frans Sanjaya (Seni Rupa’87) sering bertemu dan berkumpul. Saat itu juga sudah ada asrama putri di Sampangan Baru A-23 di sana ada MM. Rosyati (Kimia’86), Veronika Sri Suharni (Biologi’86), F. Noveni Rosari (Biologi’87), Agnes Tri Astuti (Matematika’87) dan ada dua lagi yang lebih senior Ida dan Tutik (istri Prof YL. Sukestiyarno M.S, Ph.D Wakil Rektor 4 UNNES)

Pemikiran para penggagas tercetus pada tahun 1986. Romo C. Sigit Tridrianto, Ign. Dadut Setiadi, MM. Rosyati, dan Tommy Soeprapto  punya andil besar dalam pembentukan UK3 UNNES. Wisma Driyarkara menjadi jejak sejarah berdirinya PRMK IKIP Semarang. Saat itu dibentuklah panitia sebagai wadah bagi mahasiswa Katolik di IKIP Semarang dengan mengadakan pertemuan yang diberi nama “TEMU WICARA” Mahasiswa Katolik IKIP Semarang pada tanggal 11-12 Desember 1987 di Wisma Mahasiswa Driyarkara Jl. Dr. Cipto 238 Semarang dengan ketua panitia Romo C. Sigit Tridrianto, dengan menghadirkan beberapa narasumber antara lain dosen Katolik Drs. J. Soekardjo dan teman-teman dari PRMK UNDIP dan teman-teman dari KMK IKIP Yogya. Kemudian dibentuklah pengurus, program kerja, dan latar belakang PRMK IKIP Semarang. Antonius Adi Tri Kusworo terpilih menjadi ketua Umum PRMK IKIP Semarang masa bakti 1987-1988 dan Romo Drs. HP. Bratasudarma, SJ selaku romo mahasiswa. Adapun Frans Sanjaya yang menciptakan logo PRMK IKIP Semarang. Setelah acara Temu Wicara ini, Romo Sigit menemui  Drs. AT Soegito, SH., MM selaku PR3 (Pembantu Rektor 3) saat itu untuk melaporkan adanya PRMK IKIP Semarang namun hasilnya nihil. Tidak semudah yang dibayangkan, PR3 menghendaki Romo Sigit untuk menunggu unit kerohanian lainnya yang juga harus terbentuk lebih dahulu. Mereka berinisiatif untuk mengajak mahasiswa Kristen membentuk paguyuban, tetapi sayang mahasiswa Kristen tidak terlalu antusias. Selama waktu itu para penggagas tak henti untuk “mengejar” unit kerohanian lain sehingga akhirnya terbentuklah dari kerohanian Kristen. Di bawah naungan IKIP Semarang, disepakati adanya unit kegiatan dari berbagai agama. Awal terbentuknya dalam birokrasi kampus sebutannya bukanlah PRMK, namun UK4 yaitu Unit Kegiatan Kerohanian Kristen Katolik yang diketuai oleh Adi Tri Kusworo. Dulu juga ada romo mahasiswa yang jelas sangat membantu, Romo Mangun dan Romo Broto (alm), juga Suster Vincent (alm). Dadut merasa sejak  ada PRMK di IKIP, Romo Mahasiswa lebih dekat dengan IKIP, lain dengan UNDIP karena beda budaya bersosialisasi,  mahasiswa IKIP dinilai lebih terbuka. Didasari oleh keberanian dan semangat yang kuat maka PRMK ini bisa terbentuk dan diakui oleh birokrasi kampus. Selanjutnya istilah UK4 digunakan di lingkup kampus sedangkan PRMK digunakan untuk nama di luar kampus khusunya dalam organisasi mahasiswa Katolik.

Tantangan yang Muncul

Saat periode waktu tersebut, dosen Katolik tidak terlalu “moncer” seperti sekarang, dalam arti tidak ada yang menjadi pimpinan tinggi di universitas untuk membantu mendampingi mahasiswa Katolik. Saat pembentukan PRMK IKIP Semarang ini pun para dosen Katolik juga diundang namun tidak ada satu orang yang hadir dan ini merupakan sebuah tantangan yang mereka alami, akhirnya kawan-kawan mahasiswa mencoba “mendekati” dosen Katolik. Selain itu masalah dana UK3 dan UK4 hanya diberi masing-masing Rp 500.000,00.

Drs. Ign. Dadut Setiadi, MM

Tak lupa Dadut memberikan pesan kepada para penerus PRMK IKIP Semarang. Pria yang lahir di Semarang pada 16 Oktober 1966 ini berpesan agar para pengurus dilatih kepemimpinannya dan dibekali karena hidup dan matinya sebuah organisasi ada di tangan mereka, bukan anggota. Karena menjadi pengurus harus siap kerja dan siap menghidupi organisasi. Untuk tetap konsisten jadi pengurus harus dibekali dengan manajemen organisasi. Menghidupi dan mengelola organisasi, menurutnya, tidak mudah. Bagaimana untuk merencanakan juga mengevaluasi kan membutuhkan bekal. Ulasan tentang sejarah UK3 UNNES ini tentu masih perlu diperdalam lagi dengan data-data dan sumber-sumber yang lain supaya lebih autentik. Masukan bisa disampaikan kepada BPH UK3 UNNES.

Ucapan Terima Kasih

Ucapan terima kasih tak lupa disampaikan sehingga ulasan ini bisa diterbitkan oleh Departemen Media dan Pers dan tim magang BPH UK3 2017-2018. Di antaranya disampaikan kepada:

  1. Bapak Drs. Ign. Dadi Setiadi, MM yang sudah meluangkan waktunya untuk bercerita dan menjadi narasumber utama
  2. Romo C. Sigit Tridrianto
  3. Bapak Tommy Soeprapto
  4. Andhika Wildan Krisnamurti yang mencetuskan ide pembuatan tulisan ini sekaligus editor tulisan
  5. Ibu Katarina Putriaji Hendikawati, S.Si, M.Pd, M.Sc selaku dosen pendamping UK3 UNNES
  6. Badan Pengurus Harian UK3 UNNES periode 2017-2018
  7. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah membantu dalam pembuatan tulisan ini.
Iklan